A. Latar
Belakang Masalah
mazhab atau paham. 1
merupakan aliran pendidikan yang didasarkna pada nilai-nilai kebudayaan yang
telah ada sejak zaman peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman
renaissans dengan ciri-ciri utamanya yang berbeda dengan progresivisme.
Perbedaan ini terutama dalam memberikan dasar fleksibelitas, dimana serba
terbuka untuk perubahan, toleran yang tidak ada keterkaitan dengan doktrin
tertentu bagi esensialisme, pendidikan yang
berpijak pada dasar pandangan itu mudah goyah dan kurang terarah.
Karena itu esensialisme mandang bahwa
pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan
lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas. Esensialisme didasari
atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yan mengarah pada
keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh
pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realisme.
Tujuan umum aliran esensialisme adalah
membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu
pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia.
Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa
dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan.
Maka dalam sejarah perkembangannya,
kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola
idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam
menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan
kenyataan sosial yang ada dimasyarakat.
B.
Rumusan Masalah
1. Pengertian filsafat pendidikan islam?
2. Siapa tokoh dalam esensialisme?
3. Pendidikan esensialisme dalam pandangan islam?
4. Kelemahan dan kelebihan filsafat Esensialisme,?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui arti dari filsafat.
2. Untuk mengetahui siapa saja tokoh dalam esensialisme.
3. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan esensialisme dalam pandangan islam.
4. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari filsafat
esensialisme.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
Pendidikan Esensialisme
Filsafat dalam artian pertama adalah jalan yang ditempuh
untuk memecahkan masalah. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philo yang berarti cinta dan shopia yang artinya
kebijaksanaan. Sehingga jika digabungkan
Philoshopia yaitu cinta akan kebijaksanaan. Filsafat dari segi bahasa,
pada hakikatnya adalah menggunakan rasio yaitu berpikir, tetapi tidak semua
proses berpikir disebut filsafat.
Filsafat berkaitan erat dengan segala sesuatu yang
dipikirkan oleh manusia, bahkan tidak akan pernah ada habisnya karena
mengandung dua kemungkinan yaitu proses berfikir dan hasil berfikir. Filsafat
juga dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan, karena filsafat menjawab semua
persoalan tentang hidup dan kehidupan yang berkesimpulan yang bersifat hakiki.
Pendidikan berasal dari bahasa arab yaitu At-Tarbiyah yang
artinya bertumbuh dan bertambah. Pendidikan
adalah mengajar atau memberikan pengetahuan kepada orang lain,
pendidikan juga bisa berarti ikhtiar manusia dewasa untuk mendewasakan peserta
didik agar mandiri dan bertanggung jawab dari segala sesuatu.
Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu
individu yang kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk
kepentingan hidupnya, baik sebagai seorang individu maupun sebagai warga negara
atau warga masyarakat. Dalam suatu proses pendidikan harus ada usaha untuk
membina dan mengembangkan kepribadian sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma
yang ada didalam masyarakat. Walaupun peradaban dalam masyarakat tersebut masih
bersahaja atau sederhana.
Esensialisme(budaya) merupakan perpaduan antara ide-ide
filsafat yang idealisme dan realisme. Aliran filsafat esensiahsme yaitu aliran filsafat yang menginginkan agar manusia
kembali kepada kebudayaan yang lama, karena kebudayaan lama telah banyak
melakukan kebaikan untuk manusia. Kebudayaan lama telah ada semenjak peradaban
umat manusia dahulu, terutama sejak zaman renaissance mulai tumbuh dan berkembang.
Zaman renaissance yaitu zaman peralihan, zaman yang penuh
dengan kemajuan dan perubahan yang banyak mengandung arti bagi perkembangan
ilmu. Kebudayaan lama melakukan usaha untuk menghidupkan kembali ilmu
pengetahuan, kebudayaan, dan kesenian zaman Yunani dan Romawi Kuno. Pada zaman
renaissance telah melahirkan banyak para ilmuan-ilmuan yang jenius dan berfikir
maju, seperti Roger Bacon, Copernichus, dan lain sebagainya.
Sehingga dapat disimpulkan Filsafat Pendidikan
Esensialisme Pandangan Islam Essensialisme memiliki pandangan bahwa pendidikan
sebagai pemeliharaan kebudayaan.[1]
Paham ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah
membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Menurut paham ini pula
pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak
awal peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga
sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah.
B. Tokoh Dalam Filsafat Esensialisme
Pola dasar pendidikan
aliran esensialisme yang didasari oleh pandangan humanisme, yang merupakan
reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniaan, serba ilmiah, dan
materialistik. Dalam Filsafat Esensialisme terdapat tokoh yang terkemuka yang
berperan dalam alliran esensialisme.[2] Berikut
beberapa tokoh :
1.Desiderius Eramus,
Humanis Belanda yang hidup pada akhir abad ke-15 dan
permulaan abad ke-16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup
yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat
humanistis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencangkup lapisan
menengah dan kaum aristrokat.
2. Johann Amos
Comenius
Hidup
disekitar tahun 1592-1670, beliau adalah seorang yang memiliki pandangan realis
dan dogmatis. Comenius berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk
anak sesuai dengan kehendak Tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis.
3. John Locke
Merupakan
tokoh dari Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704 sebagai pemikir dunia
berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
Locke juga memiliki sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
4. Johann Henrick Pestalozzi
Seorang
tokoh yang berpandangan kosmis-sistesis yang hidup pada tahun 1746-1827.
Pestalozzi mempunyai kepercayaan bahwa manusi adalah makhluk ciptaan Tuhan yang
merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti
ketentuan-ketentuan hukum alam.
5. Johann Friderich Herbert
Seorang
tokoh yang hidup pada tahun 1776-1841, sebagai salah seorang murid Immanuel
Kant yang berpandangan kritis. Herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan
adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak dalam arti
penyesesuian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut proses
pencapaian tujuan pendidikan oleh Herbert sebagai “pengajaran yang mendidik”
6. William T. Harris
Seorang
tokoh dari Amerika Serikat yang hidup pada tahun 1835-1909. Harris berusaha
menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan adalah
mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan
kesatuan spiritual. Kedudukan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara
nilai-nilai yang telah turun temurun dan
menjadi penentuan penyesuaian diri terhadap masyarakat.
C. Pendidikan Esensialisme Dalam Pandangan
Islam
Paham atau aliran essensialisme merupakan aliran pendidikan yang
didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat
manusia. Esensialisme memandang bahwa kebudayaan moderen dewasa ini terdapat
gejala-gejala penyimpangan dari jalan yang telah ditanamkan oleh kebudayaan
warisan masa lalu. Menurut paham ini, kebudayaan moder sekarang terdapat
kesalahan, yaitu kecendrungannya, bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari
jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan. Fenomena-fenomena sosial
kultural yang tidak diinginkan, hanya dapat diatasi dengan kembali secara sadar
melalui pendidikan. Dalam hal pendidikan, esensialisme menyebutkan Education as
cultural conservation, yaitu pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan.[3]
Yang mereka maksud dengan kebudayaan lama itu adalah
yang telah ada semenjak peradaban manusia yang pertama-tama dahulu. Akan tetapi
yang paling mereka pedomani adalah peradaban semenjak zaman Renaissance, yaitu
zaman itu telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan
kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama di
zaman Yunani dan Romawi purbakala. Jadi renaissance adalah pangkal sejarah
timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut essensialisme. Essensialisme
pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme muntlak dan
dokmatis abad pertengahan. Maka disusunlah konsep yang sistematis dan
menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang memenuhi tuntutan zaman.
Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas, yaitu Tuhan yang
menciptakan kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berfikir berada dalam
lingkungan kekuasaan Tuhan. Tuhan menguji dan menyelidiki ide-ide manusia
sehingga manusia dapat mencapai kebenaran, yang sumbernya adalah Tuhan sendiri.[4]
Dalam kaitannya dengan pandangan filsafat
pendidikan Islam pada konsep pendidikan esensialisme ini, terdapat beberapa
pandangan yang perlu mendapatkan perhatian serius, sehingga dapat dijadikan
sebagai bahan dan alat ukur pada pengembangan ilmu pendidikan Islam itu
sendiri, pandangan yang dimaksudkan adalah :
1.
Pandangan Ontologi Esensialisme
Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa
dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur isinya yang tiada
cela pula. Dengan kata lain, bagaimana bentuk,sifat dan kehendak dan cita-cita
manusia haruslah diesuaikan dengan tata alam yang ada. Pandangan-pandangan
bersifat menyeluruh,meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas
dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit, maka idealisme
obyektif menetapkansuatu pendirian bahwa
segala sesuatu yang ada ini adlaah nyata.
Manusia sebagai individu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
alam semesta. Menurut Hagel Manifestasi dari ekspresi berfikirnya Tuhan, Tuhan
berfikir dan mengatur secara dinamis mengenai manusia dan semua nya nyata. Oleh
karena itu Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi dari perfikir juga
merupakan gerak.
2. Pandangan Epistemologi Esensialisme
Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk
mengerti epistemologi esensialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari bahwa
realita sebagai mikrokosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui
dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya.
3. Pandangan
Aksiologi Esensialisme
Pandangan
ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan aksiologi. Bagi aliran
ini, nilai-nilai berasal dan tergantung pada pandangan-pandangan idealisme dan
realisme. Pertama, penganut idealisme berpendapat bahwa hukum-hukum etika
adalah hukum kosmos. Menurut idealisme, sikap, tingkah laku, dan ekspresi
perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik buruk. Kedua, prinsip
dasar realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi, bahwa semua sumber
semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan pengetahuan hidup.
4. Pandangan Esensialisme Mengenai Belajar
Menurut Immanuel Kant,
segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indra memerlukan unsur
apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Menurut idelisme,
pada tahap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian keluar
untuk memahami dunia obyektif.
Roose L. Finney, seorang
filosof dan ahli sosiologi mengatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang
pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah
ditentukan dan diatur oleh alam sosial. Jadi, belajar adalah menerima dan
mengenal secara sungguh nilai-nilai sosial yang baru untuk ditambah, dikurangi
dan dan diteruskan pada angkatan berikutnya.
5. Pandangan Esensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaknya
berpangkal pada landasan ideal dan organisasi yang kuat. Sedangkan menurut
Bogoslousky, selain ditegaskan dapat terhindar dari adanya pemisah mata
pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum juga dapat diibaratkan sebuah
rumah yang mempunyai empat bagian. [5]
pertama, Universum pengetahuan merupakan latar belakang adanya
kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Kedua, Sivilisasi karya yang
dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Ketiga Kebudayaan
merupakan karya manusia yang mencangkup diantara nya filsafat, kesenian, agama,
penafsiran. Keempat, Kepribadian cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain.
D. Kelemahan Dan
Kelebihan Filsafat Esensialisme
1. Kelebihan
Esensialisme berpendapat bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang
tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Dan esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter (tema atau gagasan pokok yang masih
berupa ide ataupun pemikiran) ke dalam proses pendidikan.
2. Kelemahan
Pertama, sekolah
tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan- kebijakan sosial. Kedua,
Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena
mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Ketiga , Peran guru sangat
dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang
sangat baik untuk digugu dan ditiru.
A. Kesimpulan
Esensialisme(budaya)
merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat yang idealisme dan realisme. Aliran
filsafat esensiahsme yaitu aliran
filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan yang lama,
karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia.
Yang
mereka maksud dengan kebudayaan lama itu adalah yang telah ada semenjak
peradaban manusia yang pertama-tama dahulu. Akan tetapi yang paling mereka
pedomani adalah peradaban semenjak zaman Renaissance, yaitu zaman itu telah
berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu
pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama di zaman Yunani
dan Romawi purbakala.
B. Saran
Semoga dengan
adanya makalah ini, baik dari pembaca maupun penulis mendapat ilmu yang manfaat
dan bisa lebih memahami tentang arti Filfafat pendidikan esensialisme dalam
perspektif islam.
DAFTAR PUSTAKA
Amsal,
Amri, 2003, Studi Filsafat Pendidikan, Banda Aceh: PeNa
Anwar,
Muhammad, 2017, Filsafat Pendidikan, Depok: Kencana
Prasetya,
1997, Filsafat Pendidikan,
Bnadung: Pustaka Setia
Mudyahardjo,
Redja, 2006, Filsafat Ilmu Pendidikan , Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Jalaludin & Abdullah, 2007, Filsafat
Pendidikan, Jogjakarta: Ar ruzz media
Zuhairni, 2015, Filsafat
Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Komentar
Posting Komentar