Kecerdasan Majemuk



🙂🙂🙂

  1. Pengertian Multiple Inteligences (Kecerdasan Majemuk)

Teori multiple inteligensi atau kecerdasan majemuk ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard Univercity, Amerika Serikat. Menurut Howard Gardner teori kecerdasan majemuk adalah salah satu perkembangan paling penting. Validasi tertinggi bahwa perbedaan individual adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat tergantung pada pengenalan, pengakuan, dan berbagai cara siswa belajar sehingga memperoleh penghargaan terhadap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Pembelajaran dengan pendekatan multiple intelligences merupakan upaya memberikan pengalaman belajar yang dirancang selaras dengan kebutuhan, gaya kognisi siswa, khususnya sesuai dengan kekuatan jenis inteligensi setiap siswa. Pendekatan pembelajaran penstimulasian multiple intelligences mengasumsikan bahwa setiap anak cerdas, namun kecerdasan mereka bervariasi.

Gardner mendifinisikan bahwa kecerdasan itu ada 7 macam yaitu :
1.      Kecerdasan Linguistik (berkaitan dengan bahasa), sering disebut oleh sebagian pendidik sebagai kecerdasan verbal. Kecerdasan linguistik mewujudkan dirinya dalam kata-kata, baik dalam tulisan maupun lisan. Orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya juga memiliki keterampilan auditori (berkaitan dengan pendengaran) yang sangat tinggi. Dan mereka suka belajar dengan mendengarkan.
2.      Kecerdasan Logis-Matematis (berkaitan dengan nalar logika dan matematika), orang dengan kecerdasan ini suka dengan data, mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta menginterprestasikan kemudian menyiumpulkan. Mereka juga suka memecahkan problem (masalah) matematis. Kecerdasan ini dicirikan sebagai kegiatan otak kiri.
3.      Kecerdasan Spasial (berkaitan dengan ruang dan gambar), sering juga disebut kecerdasan visual yaitu kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berfikir dalam sebuah gambar, belajar melalui sajian-sajian visual, seperti film, gambar, video, dan slaid.
4.      Kecerdasan Musikal (berkaitan dengan musik, irama, dan bunyi), sebagian orang menyebut kecerdasan ini dengan kecerdasan ritmik. Orang yang memiliki kecerdasan ini sangat peka terhadap suara atau bunyi. Mereka suka bernyanyi, bersiul, dan bersenandung ketika melakukan aktivitas lain.
5.      Kecerdasan Badani-Kinetetik (berkaitan dengan badan dan gerak tubuh), orang yang memiliki kecerdasan ini tidak suka diam dan ingin bergerak terus, mengerjakan sesuatu dengan tangan atau kakinya, dan berusaha menyentuh orang yang diajak bicara. Mereka sangat baik dalam keterampilan jasmaninya baik dengan menggunakan otot kecil maupun dengan otot besarnya. Mereka juga suka aktifitas fisik dan berbagai jenis olahraga. Kecerdasan ini lebih mudah dipahami daripada kecerdasan musikal.
6.      Kecerdasan Interpersonal (berkaitan dengan hubungan antar-pribadi dan sosial), Kecerdasan ini ditampakkan pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial serta keengganan dalam kesendiriran dan menyendiri. Orang seperti ini menyukai pekerjaan secara kelompok belajar dengan saling berinteraksi dan bekerja sama.
7.      Kecerdasan intrapersonal (berkaitan dengan hal-hal yang sangat mempribadi), kecerdasan yang memungkinkan seseorang memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri. Orang dengan kecerdasan intraperonal biasanya hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain, karna dia yakin dengan pendapat dia sendiri tentang hal-hal yang kontroversial. Mereka memiliki rasa percaya diri yang sangat besar.

Berikut terdapat beberapa ulasan mengenai mengetahui kecerdasan majemuk atau menyadari dan dampak mutipe inteligen dalam pembelajaran :

a. Menyadari Kecerdasan Majemuk

Tidak ada orang normal yang hanya memiliki satu jenis kecerdasan. Orang dengan kecerdasan visual dan kinestetik yang tinggi ini boleh jadi akan menjadi seorang seniman yang baik. Orang yang mampu menggabungkan kecerdasan linguistik dan musikal mungkin mampu menciptakan dan menulis lagu. Kemudian ditambah dengan kecerdasan kinestetik ia mungkin bisa mempertunjukkan musik atau karya seni dalam teater musikal. Meskipun demikian, terkadang kita masih agak sulit dalam menentukan jenis kecerdasan kita sendiri dan lebih sulit lagi mengenali kelompok kecerdasan yang mungkin berbeda dengan kelompok kecerdasan pada orang lain dan siswa. Dengan mengenali jenis-jenis kecerdasan potensi yang dimiliki oleh siswa.
Seseorang disebut inteligen bilamana memiliki general intelectual yaitu kemampuan memahami, memeriksa, dan merespon stimulus dari luar, apakah stimulus itu berupa tugas memecahkan soal matematika, mengantisipasi gerakan lawan dalam permainan tenis,keterampilan memainkan alat musik, kemampuan melakukan negosiasi bidang bisnis, kemampuanberorasi sehingga ia berhasil dalam karir politiknya, dan sejenisnya. Dalam pemaknaan inteligensiseperti di atas dapat disimpulkan bahwa inteligensi merupakan kemampuan kolektif yang dimiliki
setiap individu untuk bertindak dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.

b. Dampak Multiple Inteligences Dalam Pembelajaran

Teori multiple intelligences berdampak luas di bidang pendidikan. Teori multiple intelligences juga berdampak pada cara berfikir para pendidik. bahwa aspek-aspek tertentu dari inteligensi dapat diukur. Alat ukur jenis short test (tes jawaban singkat) yang dikatakan banyak ahli psikologi mampu mengukur kecerdasan atau inteligensi, kenyataannya hanya mengukur inteligensi linguistik dan logika. Risiko lain menggunakan tes-tes tersebut karena dapat memberi label menarik pada anak, tetapi mengikat kemampuan anak. Di samping itu, cara mengevaluasi kemampuan anak dengan alat tes tersebut akan membatasi pola pikir seseorang dan berbahaya bila dimaknai sebagai standar penilaian. Siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda selaras dengan kekuatan satu atau lebih jenis inteligensi yang dimiliki. Dalam belajar, siswa menyerap informasi (isi kurikulum), menyimpan, memanipulasi, dan  memperlihatkan pemahaman mereka (hasil belajar) khususnya melalui inteligensi yang dominan  kuat. Model-model pembelajaran dapat dikatakan sebagai model belajar yang menstimulasi satu atau lebih jenis inteligensi siswa. Model-model pembelajaran telah diidentifikasi berpengaruh positif terhadap performa akademik siswa.
Persoalannya adalah mengapa proses pembelajaran di sekolah tidak menekankan pada upaya menstimulasi berbagai jenis inteligensi siswa? Bila upaya ini dilakukan guru, maka proses pembelajaran akan lebih efektif. Proses pembelajaran dengan pendekatan multiple intelligences mengandung konsekuensi pada strategi evaluasi hasil belajar. Dalam pendekatan ini, guru tidak memaksa siswa untuk memperlihatkan apa yang telah mereka pelajari atau ketahui hanya dengan menggunakan alat tes, melainkan dengan berbagai instrumen. Kekurangan tes buatan guru maupun tes standar sebagai instrumen evaluasi karena sempitnya untuk mengukur apa yang diketahui siswa selama periode belajar, di samping cenderung mengukur pengetahuan deklaratif saja.


 

B. Implementasi Teori MI Dalam Pembelajaran

                        Implementasi bisa diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Dengan munculnya Multiple Intelligences (MI) sebagai paradigma baru dalam pembelajaran, maka hal -hal yang selama ini berkembang dan menjadi problem dalam praktik pendidikan pada umumnya akan dapat diatasi :

  1. pada umumnya sekolah memisahkan kategori murid-muridnya sebagai murid yang pandai di satu sisi dan murid yang bodoh di sisi lainnya dengan satu ukuran
  2. Kedua, suasana kelas yang cenderung monoton dan membosankan dikarenakan para pengajar hanya bertumpu pada satu atau dua jenis kecerdasan dalam mengajar.
  3. dahulu seorang pengajar mengalami kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa dalam mempelajari sebuah mata pelajaran.

Munculnya teori MI tidak terlepas dari prinsip kerja otak, di mana proses transformasi pengetahuan seseorang itu berdasarkan sistem kerja otak dalam menerima dan merespon informasi yang diterima dari luar. Plato pernah mengatakan bahwa, “Jangan gunakan paksaan, tetapi biarkan pendidikan awal menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan anda akan lebih mudah mendapatkan bakat-bakat awal.” Sebenernya tujuan dari pembelajaran adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
Jadi seorang pengajar mampu memberikan ilmu yang bisa diterima atau direspon oleh orang yang belajar. Menuurut Robert F. Mager tujuan dari pembelajaran adalah sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat pada kompetensi tertentu. Kecerdasan yang lebih tinggi termasuk juga kecerdasan intuitif akan berkembang jika dirawat dengan benar dan anak secara emosional sehat.



Agar kecerdasan-kecerdasan itu terawat secara baik, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :

  1. Struktur saraf bagian bawah harus cukup berkembang agar energi dapat mengalir ke tingkat yang lebih tinggi.
  2. Anak harus merasa aman secara fisik dan emosional.
  3. Harus ada model untuk memberikan rangsangan yang wajar.

Sebagai contoh penerapan Kecerdasan majemuk bisa kita liat disekeliling kita saat dikelas maupun diluar kelas.  Kecerdasan majemuk dapat diketahui dengan mengamati kegiatan-kegiatan aktivitas siswa atau orang lain. Misalkan orang yang suka menyanyi didalam kelas dan memiliki suara yang indah bisa dikatakan dia memiliki kecedasan musikal, karena kecerdasan musiakal merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang yang suka dengan musik, irama dan bunyi. Contoh lain, siswa juga bisa memiliki dua jenis kecerdasan. Misalnya, guru mencari siswa yang terkaya dan termiskin, kemudian bertanya bagaimana perasaan menjadi orang yang terkaya dan juga yang termiskin dengan mengungkapkan dalam kata-kata indah dan puitis. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan intrapersonal dan linguistik, karena berkaitan dengan hal-hal yang sangat mempribadi (intrapersonal) dan berkaitan dengan bahasa (linguistik).

Implementasi teori kecerdasan majemuk dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :
a. Orang tua murid/Masyarakat
Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan majemuk di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan majemuk perlu memberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.



b. Guru
Memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan majemuk. Agar implementasi teori kecerdasan majemuk dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :
* Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
* Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.

Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.
            Implementasi teori kecerdasan majemuk membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber resourcesresources, tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Lebih lanujut dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 22 menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
pembelajaran menggunakan pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran guru:
1. memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas,
2. memberi suasana aman dan bebas secara psikologis,
3. disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan dapat berpartisipasi secara aktif
4. memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif.







Daftar pustaka :

Armstrong, T. (1994). Multiple Intelligences in The Classroom. Alexandria, Virginia: ASCD

Armstrong, T. (2002). Setiap anak cerdas Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligencenya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Jasmine, J. (2001).Mengajar Berbasis Multiple Inteligence. Bandung: Penerbit Nuasa

Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd. (2006).Perencanaan Pembelajaran.Jakarta: PT. Bumi Aksara



Komentar